BAB II
LANDASAN TEORITIS
A. Hakekat Belajar dan Pembelajaran
Dalam proses pengajaran, unsur belajar mengajar memegang peranan penting. Mengajar adalah proses membimbing siswa dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak bisa menjadi bisa. Sedangkan menurut Hamalik (1994:36) bahwa “Mengajar adalah proses kegiatan membimbing belajar dan kegiatan mengajar hanya bermakna bila terjadi kegiatan belajar siswa.” Maka dari itu guru harus benar-benar menguasai dan memahami proses belajar mengajar.
Pengertian belajar sudah banyak sekali dikemukakan oleh para ahli psikologi. Menurut Slameto (2003:2) “Secara psikologis belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya”
| 5 |
B. Model Reciprocal Learning
Ada banyak model pembelajaran yang memberikan kesempatan siswa utnuk aktif belajar mandiri dan mengembangkan kemampuan pemahaman dan penguasaan fisikanya, salah satunya adalah model pembelajaran berbalik.
Menurut Palinscar dan Brown (1999), “Untuk menerapkan model pembelajaran berbalik siswa diberi kesempatan yang sama untuk berlatih menggunakan keempat strategi dan menerima umpan balik dari anggota kelompoknya yang lain. Guru sebagai fasilitator berperan penting dalam membimbing dan membantu siswa agar lebih pandai menggunakan stategi tersebut. Khodijah (dalam Hendrianan, 2002 : 4) menjelaskan
Pembelajaran berbalik adalah pembelajaran yang membiasakan siswa dalam empat strategi pemahaman mandiri, yaitu merangkum, membuat pertanyaan, menjelaskan kembali dan memprediksi. Strategi menjelaskan kembali memberikan kembali penekanan kepada siswa yang menjadi guru di hadapan teman-tamannya (siswa guru). Masing-masing dari startegi pembelajaran berbalik ini akan membantu siswa membangun pengertian terhadap materi yang sedang mereka pelajari secara mandiri.
Model pembelajaran berbalik ini dikembangkan oleh Anne Marie Palinscar dari Universitas Michigan dan Anne Brown dari Universitas Illionis USA. Karakteristik dari pembelajaran berbalik menurut Palinscar dan Brown (1984) adalah: “A dialogue between students and teacher, each taking a turn in the rode of dialogue leader: “Reciprocal Learning” interactions where one person acts in response to the other; structured dialogue using four strategies; questioning, summarizing, clarifying, predicting.
Bila diterjemahkan berarti bahwa karakteristik dari pembelajaran berbalik adalah (1) dialog antara siswa dan guru, dimana masing-masing mendapat giliran untuk memimpin diskusi, 2) (Reciprocal) artinya suatu interaksi di mana seseorang bertindak untuk merespon yang lain, 3) dialog yang terstruktur dengan menggunakan empat strategi yaitu: merangkum, membuat pertanyaan, mengklarifikasi (menjelaskan) dan memprediksi. Masing-masing strategi tersebut dapat membantu siswa membangun pemahaman terhadap apa yang sedang dipelajarinya.
C. Hakikat Prestasi Belajar
a. Pengertian Prestasi Belajar
Menurut WJS Purwadinata, (1984:768) “Hasil yang telah dicapai”. Zainal A. (1988:12) “Kata prestasi hurup pretatie yang artinya suatu hasil usaha”.
Menurut Nana Sujana (1988:17) “Belajar sebagai proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang yang ditujukan dalam berbagai bentuk seperti pengetahuan, sikap, pemahaman, tingkah-laku, keterampilan, kecakapan, kemampuan serta perubahan-perubahan lainnya”.
Slamet (1995:2) “Merupakan suatu proses usaha yang dilakukan individu dalam tingkah laku yang baru dan keseluruhan sebagai pengalamannya dalam interaksi dengan lingkungan”.
Muhibin Syah (1995:91) “Sebagai tahap perbuatan tingkah perilaku siswa yang relatif mantap sebagai hasil interaksi”.
Sardiman (1987:23) “Belajar adalah suatu tingkah laku pada individu yang meliputi penguasaan 5 macam yaitu ilmu pengetahuan, kecakapan, keterampilan, sikap, harga diri”.
Zuhaya S. Praja dan Usman Ef (1993:103) memiliki makna sebagai “Suatu proses usaha/interaksi yang dilakukan individu, untuk menciptakan sesuatu yang baru dan perubahan tingkah laku sebagai hasil dari perjalanan-perjalanan itu sendiri”.
Dengan demikian disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah aspek kecakapan yang telah dimiliki siswa sebagai usaha dari kegiatan belajar yang telah ditempuh.
b. Jenis-jenis belajar
Sumadi Suryabrata (1982:35) mengatakan
Disebutkan juga prinsip belajar diantara perubahan khas yang menjadi karakteristik perilaku prestasi belajar yang penting adalah a) perubahan itu intesional, b) perubahan itu positif dan aktif, dan c) perubahan itu efektif dan fungsional.
1) Kesimpulan : perubahan yang terjadi dalam proses belajar berkat pengalaman yang dilakukan dengan sengaja sebagai contoh, kebiasaan sopan santu di meja, bertegur sapa dengan orang lain/guru/lingkungan, dan ramah.
2) Bermanfaat dan sesuai harapan.
3) Timbul karena proses belajar bersifat efektif berdaya guna: perubahan tersebut membawa pengaruh, manfaat tertentu bagi siswa.
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar
Nana Sudjana (1989:39) “Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi faktor utama dan faktor lingkungan 70% oleh siswa, 30% oleh lingkungan”.
Secara global, faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar menurut Muhibbin Syah (2005:132) dibagi menjadi tiga macam yaitu:
1. Faktor internal siswa, yakni keadaan jasmani dan rohani siswa.
2. Faktor eksternal siswa, yakni kondisi lingkungan disekitar siswa.
3. Faktor pendekatan belajar (approach to learning), yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran.
Untuk lebih memperjelas uraian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar, disajikan dalam bentuk tabel di bawah ini:
Tabel 2.1
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
| Ragam Faktor dan Elemennya | ||
| Internal Siswa | Eksternal Siswa | Pendekatan Belajar Siswa |
| 1. Aspek fisiologis: - tonus jasmani - mata dan telinga 2. Aspek psikologis: - intelegensia - sikap - minat - bakat - motivasi | 1. Lingkungan sosial - keluarga - guru dan staf - masyarakat - teman 2. Lingkungan non sosial - rumah - sekolah - peralatan - alam | 1. Pendekatan tinggi - spekulative - achieving 2. Pendekatan sedang - analical - deep 3. Pendekatan rendah - reproductive - surface |
Sumber : Muhibin Syah, 2005:193
Dari uraian di atas ternyata banyak faktor yang mempengaruhi dalam keberhasilan proses belajar mengajar bukan hanya dari faktor luar dan pendekatan saja namun adanya pengaruh faktor intern siswa atau pelajar baik dari aspek fisiologis maupun aspek psikologisnya seperti motivasi, minat, dan bakatnya.
Sebuah ilustrasi, seorang pelajar yang sedang menginginkan nilai yang baik, mengurung diri di dalam kamar untuk belajar, karena akan menghadapi ujian pagi harinya. Kegiatan yang dilakukan seperti itu sebenarnya dilatarbelakangi oleh sesuatu yang secara umum dinamakan motivasi.
Begitu juga dalam belajar sangatlah diperlukan adanya motivasi “Motivation is an essential condition of learning”. Menurut Sardiman A.M. (1996:84) bahwa “Hasil belajar akan menjadi optimal, kalau ada motivasi. Jadi motivasi akan senantiasa menentukan intensitas usaha belajar bagi para siswa”.
Lebih lanjut Sardiman A.M. (1996:85) mengemukakan
Motivasi dapat berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi. Seseorang melakukan suatu usaha adanya motivasi. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukan hasil yang baik. Dengan kata lain bahwa adanya usaha yang tekun dan terutama didasari adanya motivasi, maka seseorang yang belajar itu akan menghasilkan prestasi yang baik. Intensitas motivasi seorang siswa akan sangat menentukan tingkat pencapaian prestasi belajarnya.
Senada dengan pendapat di atas Ngalim Purwanto (2006:107) mengemukakan bahwa
Di dalam proses belajar mengajar di sekolah, maka yang dimaksud dengan masukan mentah atau raw input adalah siswa sebagai raw input siswa memiliki karakteristik tertentu, baik fisiologis dan psikologis. Mengenai fisiologisnya ialah bagaimana kondisi fisiknya, panca indranya, dan sebagainya. Sedangkan yang menyangkut psikologisnya adalah minatnya, tingkat kecerdasannya, bakatnya, motivasinya, kemampuan kognitifnya dan sebagainya. Semua itu dapat mempengaruhi bagaimana proses dan hasil (prestasi) belajar.
Callahan dan Clark dalam E. Mulyasa (2007:58) mengemukakan bahwa “Motivasi adalah tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah suatu tujuan tertentu”.
Dengan motivasi akan tumbuh dorongan untuk melakukan sesuatu dalam kaitanya dengan pencapaian tujuan. Seseorang melakukan sesuatu kalau memiliki tujuan yang jelas maka akan bangkit dorongan untuk mencapainya, karena merasa tujuan itu sesuatu yang harus dipenuhi bagi dirinya. Motivasi dapat menyebabkan terjadinya suatu perubahan energi yang ada pada diri manusia, naik yang menyangkut kejiwaan, perasaan, maupun emosi, dan kemudian bertindakan atau melakukan sesuatu untuk mencapai tujuannya.
Selanjutnya dijelaskan oleh E. Mulyasa (2007:58) tentang hubungan motivasi dengan prestasi belajar, bahwa “Motivasi merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, karena peserta didik akan belajar dengan sunguh-sungguh apabila memiliki motivasi yang tinggi”.
“Kekurangan atau ketiadaan motivasi, baik yang bersifat internal maupun yang bersifat ekternal, akan menyebabkan kurang semangatnya siswa dalam melakukan proses pembelajaran materi-materi pelajaran baik di sekolah maupun di rumah”. (Muhibin Syah, 2005:137)
Dari beberapa uraian di atas, ternyata motivasi dan prestasi belajar sangat erat kaitannya. Apabila siswa memiliki motivasi yang kuat, maka belajarnya pun akan semaksimal mungkin dan akhirnya bermuara pada prestasi belajar yang diharapkan.
D. Kerangka Berpikir
Menurut Nuryani Y Rustaman, dkk (2003 : 4) menyatakan bahwa interaksi dalam proses belajar mengajar tidak sekedar hubungan komunikasi antara guru dan siswa, tetapi merupakan interaksi edukatif yang tidak hanya penyampaian konsep atau materi pelajaran melainkan juga menanamkan sikap dan nilai pada diri siswa yang sedang belajar. Dalam kaitan dengan pelaksanaan Kurikulum Satuan Pendidikan, belajar dapat dipandang sebagai aktivitas psikologis yang memerlukan dorongan dari luar, oleh karena itu hal-hal yang harus diupayakan antara lain: a). Bagaimana memotivasi peserta didik dan bagaimana konsep atau materi belajar harus dikemas sehingga bisa membangkitkan motivasi, gairah dan semangat belajar. b). Belajar perlu dikaitkan dengan seluruh kehidupan peserta didik, agar dapat menumbuhkan kesadaran terhadap manfaat dari perolehan belajar. (Mulyasa, 2004 : 123).
Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan paham kontruktivis. Menurut Yusuf (http://www.damandiri.or.id, 2006.39) yang dikutip dari Von Glaserfelt bahwa kontruktivis adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi kita sendiri. Siswa secara aktif membangun pengetahuan mereka sendiri sebagai mediator, yaitu proses memasukan dari dunia luar dan menentukan apa yang mereka pelajari. Pendekatan kontruktivisme lebih menekankan pada siswa sebagai pusat pembelajaran dan pendekatan seperti ini diharapkan dapat lebih merangsang dan memberi peluang kepada siswa untuk belajar, berfikir inovatif, dan mengembangkan potensinya secara optimal.
Dalam psikologi pendidikan menyatakan bahwa guru tidak dapat hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada siswa agar secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar, guru dapat memberikan kepada siswa anak tangga yang membawa siswa akan pemahaman yang legih tinggi, dengan catatan siswa sendiri harus memanjat anak tangga tersebut.
Siswa sering tidak menghargai temannya yang berhasil secara akademis, sementara itu mereka benar-benar ,menghargai temannya yang menonjol dalam olah raga, hal ini terjadi karena keberhasilan didalam olah raga membawa keuntungan kepada kelompok (team, sekolah, atau daerah), sementara keberhasilan akademik, keuntungannya hanya bersifat individual. Dalam kenyataannya, di kelas yang menggunakan penilaian berdasar kurva atau penilaian intensif kompetitif, setiap keberhasilan individu mengurangi kesempatan individu lainnya untuk meraih sukses. Menurut Salvin dalam buku Ibrahim, Muslim (2000 : 19) memusatkan perhatian pada kelompok pembelajaran kooperatif dapat mengubah norma budaya, lebih dapat menerima prestasi menonjol dalam tugas-tugas akademik. Selain itu keuntungan pembelajaran kooperatif dapat memberi keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerjasama. Siswa kelompok atas akan menjadi tutor bagi siswa kelompok bawah dan memeproleh bantuan khusus dari temannya yang memiliki orientasi kemampuan yang sama. Siswa kelompok atas akan meningkat kemampuan akademiknya karena memiliki pelayanan sebagai tutor membutuhkan pemikiran lebih mendalam tentang hubungan ide-ide yang terdapat di dalam materi tersebut.
Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompoknya harus saling bekerjasama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran.
E. Tinjauan Materi Ajar Fisika Konsep Gejala Gelombang.
F. Hipotesis Tindakan
1. Model Reciprocal Learning pada pembelajaran fisika dapat meningkatkan motivasi siswa.
2. Aktivitas dan kreativitas siswa dapat meningkat dengan penerapan model Reciprocal Learning.
3. Prestasi Belajar siswa mengalami peningkatan dengan penerapan model Reciprocal Learning pada pembelajaran fisika.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar